Cerpen Ferdinan De J Saragih

Surat Terakhir


Dunia memang tidak pernah adil untukku. Aku adalah mahkluk tiri yang selalu dipersalahkan, di hina, hingga aku tak diperbolehkan mencintai yang kucintai, bahkan memiliki yang seharusnya milikku. Andai saja Tuhan benar-benar ada, Dia pasti telah bosan mendengar doa-doaku di setiap malam, di antara tangisan ibuku.

Bapakku seorang pembunuh. Kenyataan itulah yang membuat hidupku, tanpa bisa berbuat apa-apa. Semua kesalahan ayah menjadi tanggunganku, selama aku masih hidup. Karena, dia telah meninggal, sebelum aku mengerti arti seorang ayah.

Aku tidak pernah memahami, mengenai sifatku yang pendiam. Mungkin karena aku malu memiliki seorang ayah pembunuh, atau mungkin karena memang turunan dari ibuku. Hal itulah yang membuatku tidak pernah melawan teman-teman yang sering menghinaku. Padahal sebenarnya hatiku sangat berontak jika di hina dan selalu dipersalahkan.

Sebenarnya aku sangat mencintai ibuku. Karena, dia tidak bersalah atas kelakuan teman-teman terhadapku. Ayahkulah yang patut dipersalahkan. Ayah yang biadap. Aku selalu mengutuknya setiap kesedihan menderaku, di setiap tangisan ibuku. Hingga suatu hari, ibu mendengar aku mengucapkan kutukan itu dengan lantang, dan aku melihat ibu menangis.

“Kenapa ibu menangis, Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanyaku dengan lantang. “biarlah bapakmu tenang di sana nak, ibu sangat mencintai ayahmu!” ucap ibu, tangisannya semakin menjadi-jadi. “ibu masih mencintai pembunuh seperti dia? Kalau saja ayah bukan seorang pembunuh aku tidak akan menderita seperti ini bu!” ucapku marah “kamu masih terlalu kecil nak, kamu belum tau apa-apa tentang semua itu.” ibu pergi begitu saja ke dalam kamarnya.

Kenapa ibu selalu membela laki-laki pembunuh itu, Apakah begitu besarnya cinta ibu kepada lelaki itu? Apakah ibu tidak pernah merasakan penderitaanku selama ini? ah, dunia begitu kejam, sampai-sampai ibu yang sangat kucintai tidak pernah membelaku.

***

Kini aku sudah duduk dibangku kuliah. Aku telah meninggalkan ibu selama empat tahun. Karena aku tidak tahan tinggal bersamanya, terutama tinggal di rumah seorang pembunuh, walaupun dia adalah ayahku. Tapi jujur, aku sangat rindu pada ibu. Dia sebenarnya ibu yang baik. segala keperluanku di kota yang asing ini, selalu dia penuhi. Tapi aku masih heran, kenapa ibu selalu menangis jika aku mengutuk pembunuh itu? Dia begitu mencintainya. Hal itulah yang belum bisa kupahami.

Setelah acara wisuda selesai. Kupersiapkan semua barang-barangku untuk pulang menemui ibu. Aku ingin mencium sorga di kakinya, dan memeluknya seperti dulu. Aku akan menanyakan kepada ibu, mengapa ibu begitu mencintai ayah melebihiku. Barangkali ada sesuatu yang belum kuketahui, yang dirahasiakan ibu kepadaku.

Tibalah aku pada sebuah perkampungan yang tidak asing lagi bagiku. Sunyi menyerupai kuburan. Desa ini telah berubah, dulu tidak pernah sesunyi ini. ucapku dalam hati. Dari kejauhan, pandanganku tertuju pada sebuah rumah. Itu adalah rumah ibu, rumahku dulu. Aku langsung bergegas menuju rumah itu. Karena, Ibu pasti senang jika mengetahui kedatanganku.

Saat pintu kuketuk yang keluar bukannya ibu, tapi seseorang yang belum kukenal. “cari siapa nak?” tanyanya. “emangnya ibu siapa? Inikan rumah ibuku” tanyaku marah. “jadi kamu anak seorang ibu, yang dulunya menghuni rumah ini? ibumu telah meninggal setahun yang lalu”ucapnya. “tidak mungkin” ucapku semakin marah. Lalu dia mengambilkan sebuah surat dan memberikannya padaku. “sebelum ibumu meninggal, dia memberikan surat ini kepadaku. Dia berpesan, jika suatu saat ada seorang anak yang mencarinya, supaya memberikan surat ini padanya.” Dengan cepat kuambil surat itu.

Anakku,

sebenarnya ibu telah lama ingin mengatakan ini kepadamu. sebelum ibu pergi untuk menemui ayahmu. Tapi, saat itu kau masih terlalu kecil untuk mengetahui semua itu. Ibu sangat mencintai ayahmu, bahkan melebihimu. Ayahmu memang seorang pembunuh, tapi bukan pembunuh seperti yang kau ketahui.

Pada saat itu ayahmu membunuh anak kepala desa, yang menghina keluarga kita begitu keji. saat itu juga kepala desa menyuruh masyarakat menghajar ayahmu, hingga ayahmu meninggal.

Ibu minta maaf, jika hidupmu selalu menderita. Satu lagi, ibu telah menjual rumah, untuk keperluan kuliahmu selama ini.” Itulah isi surat singkat dari ibu.

“Kenapa ibu meninggalkanku, Sebelum aku mengetahui semua ini? aku terlalu egois. Maafkan aku ibu.” Ucapku di depan orang asing itu.

Malam itu juga, aku bergegas ke makam kedua orang tuaku. tangisanku menggelegar di antara kesunyian malam yang beku. kutitipkan pesan kepada bulan purnama, untuk menyampaikan permohonan maafku kepada ibu dan ayah, di tempat kelahirannya yang baru. Akupun berpamitan kepada ayah dan ibu, karena aku tidak akan menginjakkan kaki lagi di desa yang pekat ini. “sampai bertemu di sana ayah, ibu.” Ucapku layu.


Biodata Penulis

Ferdinan De J Saragih lahir di Sigodang, Sumatra Utara, 4 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penulis, blogger (www.ferdinande.tk). Karyanya dimuat di berbagai media. Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu dan Penyair Muda.


Baca Juga: Cerpen Elida Nurhabibah


Dukung saya ya Sob, LombaKontesSEO I dan LombaKontesSEO II




Tag : Cerpen Kita
0 Komentar untuk "Cerpen Ferdinan De J Saragih"

Back To Top